Oleh Tati Kurniati Fatimah
Media saat ini beramai-ramai memuat pemberitaan mengenai aliaran sesat. Aliran sesat? Lagi-lagi aliran sesat tumbuh di bumi Indonesia yang notabene penduduknya beragama Islam. Indonesia seolah-olah menjadi lahan subur bagi tumbuhnya aliran sesat. Setelah beberapa waktu lalu diramaikan dengan aliran Ahmadiyyah, dimana pemimpinnya, Mirza Gulam Ahmad mengklaim bahwa dirinya adalah nabi terakhir, lalu ada Lia Eden yang juga disebut JIbril Suci dimana Lia memposisikan dirinya sebagai keturunan JIbril, dan tidak beberapa lama media beramai-ramai menayangkan sebuah aliran sesaat berikutnya yaitu Al-Qiyadah.
Mengapa sesat? Sesuatu disebut sesat karena ada yang keluar dari kebiasaan, yang sifatnya tidak lumrah, nyeleneh dianggap tidak wajar. Dan yang terpenting keluar dari aturan atau norma-norma yang seharusnya. Mengapa Lia Eden dianggap sesat? Jelas karena Lia Aminudin mengklaim bahwa dirinya adalah istri malaikat JIbril, sedangkan kita semua tahu, bahwa malaikat tidak pernah menikah. Begitu pun dengan Ahmadiyah. MIrza Gulam Ahmad sebagai pemimpinnya mengaku sebagai nabi terakhir. Mirza Gulam Ahmad tidak mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir. Jadi tidak mengherankan jika Ahmadiyyah dimasukkan ke dalam daftar aliran sesat.
Bagaimana dengan Al-Qiyadah, mengapa aliran ini dianggap sesat, bahkan telah dimasukkan ke dalam daftar aliran sesat oleh Majelis Ulama Indonesia? Al-Qiyadah menerapkan aturan-aturan yang jelas keluar dari aturan asal yang selama ini umat Islam pegang. Shalat yang disyariatkan sebanyak lima waktu, oleh aliran ini menjadi tidak wajib. Bahkan, shalat lima waktu ini disingkat dalam satu waktu menjadi hanya shalat malam. Luar biasa bukan?
Shalat lima waktu yang pada saat diwajibkannya telah melewati serangkaian perjalanan panjang nan suci, dimana Rasullullah harus mengalami isra miraj, perjalanan panjang yang dilakukan pada satu malam dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit ke tujuh menjumpai Tuhan-nya, dengan tawar-menawar yang alot, lalu hingga ditetapkan menjadi lima waktu dalam sehari, lalu tiba-tiba dengan mudahnya disulap menjadi shalat satu waktu di malam hari. Alasan apa lagi yang membuat Al-Qiyadah tidak dianggap aliran sesat?
Menarik jika mencermati aliran sesat yang seolah tumbuh subur di bumi Indonesia . Padahal, kita semua tahu, bahkan seluruh dunia pun mengakui, bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi, mengapa aliran sesat, -sesat dari ajaran yang sesungguhnya yaitu Islam- berkembang dengan subur? Ada apa dengan masyarakat muslim Indonesia ? Apakah kita sudah tidak bisa lagi membedakan mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang salah? Apakah kita sebagai muslim sudah tidak bisa lagi membaca Al-Quran sebagai pedoman hidup?
Majelis Ulama Indonesia tidak lagi ragu menetapkan suatu aliran yang keluar dari ajaran yang sesungguhnya sebagai aliran sesat. Namun tindakan tersebut baru dilakukan baru-baru ini.. Setelah aliran-aliran tersebut tumbuh subur. Setelah banyak umat Islam yang menjadi anggota aliran tersebut. Mengapa tindakan tegas tidak dilakukan sejak dini? Lihat saja aliran Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Aliran ini telah sejak lama dianggap sebagai aliran sesat karena ajarannya yang menyimpang, namun mengapa kita masih sering melihat papan nama yang bertuliskan nama lembaga tersebut di jalan-jalan? Jika lembaga ini dinilai sesat, mengapa masih dengan bebasnya berkembang? Adakah unsur politik yang bermain didalamnya?
Indonesia adalah Negara muslim terbesar meskipun tidak pernah memproklamirkan dirinya sebagai Negara Islam. Bahkan, calon presiden kita pun wajib beragama Islam. Indonesia memiliki lembaga yang khusus menangani urusan agama. Semua ini menunjukan bahwa Indonesia sangat mengedapankan Islam sebagai patokan dalam kehidupan. Suara-suara adzan begitu akrab terdengar. Lantunan ayat suci menggema di setiap mesjid, di setiap mushala, di setiap surau. Alunan shalawat, puji-pujian, senandung kitab, merdu dendang qosidah adalah hal yang begitu akrab terdengar. Bukankan hal tersebut menunjukan bahwa Indonesia adalah Negara dengan nilai-nilai Islam sebagai budaya? Lantas, mengapa aliran sesat masih bisa tumbuh subur?
Agaknya, kita yang mengaku sebagai umat Islam harus mulai bercermin. Melihat kembali sejauh mana nilai-nilai Islam telah menghujam di dalam hati. Meneguhkan iman. Mungkin inilah yang disebutkan Rasulullah dalam hadistnya, bahwa umat Islam adalam umat yang sangat banyak, namun mereka bagaikan buih dilautan. Banyak, namun tidak memiliki bobot, tidak bernilai. Dengan ringannya dibawa gelombang, dihempaskan ombak. Sebagian sampai ke tepian, namun lebih banyak yang terhempas di samudera. Wallahu a’lam. (Mhs KPI V.A UIN Bandung).*

Saya baca judul dan sekilas isi.
Nampaknya Allah yang anda kenal beda dengan Allah saya.
Otomatis akidah beda, paham beda. pasti gak ketemu.
yaudah gak jadi baca.
Klo kata aku negara kita emang negara islam. tapi dalam segala sesuatunya tidak menggunakan ketentuan islam sebagai pedoman. alhasil…..
untuk penjelasanya sudah bagus kalau boleh ditambah dengan cara membaiatnya
Sanagat menarik tulisan Fatimah, sistimatis, runtut dan konsekwensi. Sepertinya anda kurang membaca tanda zaman. Anda kurang mengenal HAM, terkesan apriori dan egois tetapi kontribusi anda sangat bermanfaat.
Nabi SAW sendiri telah meramalkan hal itu jauh2 sebelumnya, terhadap nomor sebesar 200 juta jiwa beragama Islam apakah MUI mampu membentengi kesesaatan ramalan nabi? Perlu disadari, zaman sedang menguji pemikiran kita semua secara bijak, Indonesia bukan negara agama Islam, Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik, negara yang berbineka tunggal ika, meski berbeda tetapi Islam tetap satu. Bukan zamannya lagi untuk terus berpakaian seragam, mungkin sudah saatnya untuk menguji Imana Muslimin yang sejati anda dan aku telah kuat kita mencoba memberi terang tapi jangan memojokkan.
Setiap nabi memiliki tanda kenabian, siapa saja menmgklaim sebagai nabi tetapi memiliki karakter nabi pasti suatu saat ia ditinggalkan umatnya. Yang perlu dibicarakan juga adalah ingatkan pemimpin negara kita yang beragama Islam untuk tidak egois merampok uang negara untuk kepentingannya sendiri. Mintalah kepada mereka agar kekayaannya disumbangkan ke oragnisiasi Islam berbasis Mesjid lalu digunakan secara bertanggung jawab untuk kepentingan umat islam. Mereka yang ikutan sesaat selain kurang paham soal agama juga karena secara ekonomi mereka tergolong sangat mislkin.
Karena itu gunakan agama untuk kepentingan orang banyak jangan egois dan terjebak……
Wassalam