Tiga Penyebab Utama Kekalahan Trendi

Berdasarkan beberapa data yang saya terima, maka saya menyimpulkan sedikitnya ada 3 alasan kenapa Pak Taufik kalah dalam Pilwalkot ini:

1. Popularitas. Figur Pak Taufik belum dikenal oleh warga Bandung. Dari ketiga pasangan calon, pak Dada yang tingkat pengenalan oleh warga Bandung paling tinggi. Ya benar juga sih, dia kan wallikota sekarang, nama dan wajahnya sering muncul di media massa. Pak Taufik hanyalah seorang dosen di ITB, belum menjadi siapa-siapa.

Meskipun PKS memasang ribuan poster Pak Taufik-Abu Syauqi hampir di semua tembok, dinding, tiang listrik, pagar pembatas, dll, sebagai cara untuk sosialisasi, tetap saja ribuan poster itu tidak mampu mengangkat popularitas Pak Taufik. Saya pikir alasan pertama ini adalah penyebab utama mengapa Pak Taufik gagal meraih dukungan.

2. Pak Dada manjabat sebagai incumbent, maka dia menggunakan posisinya itu untuk merebut simpati warga Bandung dengan berbagai proyek realistis sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. Pak Dada lah walikota yang berani menutup lokalisasi Saritem di Bandung. Orang Bandung pasti mahfum dengan Saritem. Makanya tidak heran ormas-ormas Islam seperti MUI, FPI, Muhammadiyah, Persis, NU, dll mendukung Pak Dada sebagai bentuk “terima kasih” karena telah mengabulkan tuntutan mereka agar Saritem ditutup.

Trus, seminggu sebelum hari H, Pak Dada pula yang menambal jalan-jalan berlubang di berbagai pelosok kota. Jalan Purwakarta Raya di kawasan Antapani Bandung misalnya, yang selama ini banyak bolong-bolongnya dan sering bikin ngedumel warga perumahan di sana, eh. tiba-tiba diaspal bagian yang berlubang itu sehingga menjadi mulus. Pengaspalan dikerjakan malam-malam, pagi-pagi warga sudah kaget kok jalannya sudah tidak berlubang lagi, sudah mulus. Siapa lagi yang punya kerjaan begitu kalau bukan Pak Dada. Proyek semacam ini jelas tidak bisa dilakukan oleh Pak Taufik dan Pak Hudaya karena tidak punya uang dan wewenang untuk itu.

3. Pasangan Trendi dilanda kampanye hitam. Menurut saya nih PKS “salah” memilih calon wakil walikota. Kalau Pak Taufik sih sudah tepat. Masalahnya ada pada Abu Syauqi. Abu Syauqi yang dicalonkan mendampingi Pak Taufik menurut saya bukan pilihan yang bagus karena rentan dengan cobaan fitnah.

Abu Syauqi adalah pengelola Rumah Zakat yang sudah mapan dan cukup besar di Bandung. Dan ternyata dugaan saya benar, selebaran gelap beredar di tengah masyarakat yang melontarkan fitnah bahwa Abu Syauqi menggunakan dana zakat untuk kampanye Pilwalkot. Saya sih tidak percaya, tetapi yang namanya fitnah pasti ada yang termakan. Nampaknya kedepan PKS perlu lebih berhati-hati mencalonkan orang yang punya lembaga amal. Ternyata cobaan belum berakhir. Abu Syauqi dilanda isu poligami. Saya tidak tahu apa benar Abu Syauqi melakukan poligami, tetapi isu poligami sangat sensitif terutama buat kaum ibu dan perempuan yang merupakan kelompok pemilih terbanyak.

Di jalan Dago saya lihat spanduk besar yang berisi ajakan jangan memilih pemimpin yang melakukan poligami. Spanduk itu mengatasnamakan kaum perempuan Bandung. Semula saya tidak ngeh siapa yang dimaksudkan, tetapi dari berita di media online isu poligami itu diarahkan kepada Abu Syauqi. Tampaknya PKS tidak belajar dai kasus Aa Gym yang pamornya meredup sejak melakukan poligami. Menurut saya sih poligami dan Pilwalkot adalah dua masalah berbeda. Itu hak sang calon melakukannya, tetapi kita juga tidak bisa menyalahkan orang jika mereka antipati kepada pelaku poligami.

Sikap saya tentang poligami sudah jelas: dihalalkan oleh agama tetapi dengan sejumlah syarat yang sangat berat yaitu berlaku adil. Abu Syauqi dan Aa Gym mungkin mampu memenuhi syarat itu, tetapi jika berhadapan dengan opini publik yang masih memandang negatif poligami, mereka akan tersudut. Seberapa besar isu poligami ini mempengaruhi pemilih memang belum ada penelitiannya. (rinaldimunir.wordpress.com).*

3 thoughts on “Tiga Penyebab Utama Kekalahan Trendi

  1. TIM SUKSES ADALAH PENENTU KEMENANGAN.
    DI DKI TIM SUKSESNYA YANG SUDAH BERPENGALAMAN SEBAGAI BAPILU NASIONAL DARI JAMAN ORDE BARU SAMPAI SEKARANG MASIH DI PAKAI.
    DIBANDUNG SAMA JUGA, TIDAK ADA SALAHNYA KALAU BELAJAR DARI YANG BERPENGALAMAN.
    STRATEGI, BIAYA, BLACK CAMPAIGN, BIROKRASI, ANCAMAN, APARAT, SOCK TERAPI, BERI KENANGAN PKK RT RW LURAH CAMAT, JANJI MANIS2, POSISI TDK BERUBAH, TIDAK PUAS GOLPUT SAJA, DLL………………

    AMBIL YANG BAIK2 UNTUK PENGALAMAN SELANJUTNYA.

  2. ah tidak hanya lawan kok yang mengeluarkan selebaran hitam. PKS juga sama, iya kan? pake organ mahasiswa. kasihan mahasiswa dipake kendaraan politik…tanya ama mahasiswa kammi, bem bandung raya deh…

  3. Satu lagi Kang, Golput! Dugaan saya, golput sebagian besar dari kalangan berpendidikan yang sudah demikian suntuk dengan situasi Bandung (juga Indonesia, sama saja!). Akibatnya, yang tersisa dan mau datang ke TPS tinggal masyarakat bawah yang tidak bisa atau tidak sempat mendapatkan informasi yang objektif. Kelompok inilah yang akhirnya membantu kemenangan incumbent karena mudah dibeli dengan amplop dan sembako, atau mudah dibelokan oleh isu-isu (fitnah) yang belum tentu benar.

    TRENDI, juga semua masyarakat yang peduli Bandung tidak berhasil mengajak kawan-kawan atau keluarga yang Golput agar turut menentukan calon terbaik diantara yang ada. Fenomena seperti ini saya duga akan terjadi juga di Pilpres nanti jika cara pengenalan tokoh dan kampanye masih seperti sekarang ini.

    Menurut saya, debat publik yang terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama lebih baik dari pada tempel-tempel segala macam.

    Salam
    Arry Akhmad Arman

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s